KOMPAS.com - Satu tahun secara astronomi didefinisikan
sebagai waktu sebuah planet mengelilingi bintang induknya atau dikenal
dengan waktu revolusi. Satu tahun di antara planet satu dengan yang
lainnya bisa beragam, salah satunya dipengaruhi oleh jarak antara planet
dan bintangnya.
Kini, astronom mengetahui suatu tempat yang
mengalami tahun tersingkat di alam semesta. Tempat itu adalah benda
langit bernama KOI 1843.03 yang baru saja ditemukan astronom
Massachusets Institute of Technology (MIT) dari data wahana Kepler. Satu
tahun di planet itu setara dengan 4 jam 15 menit Bumi.
Roberto
Sanchis-Ojeda, mahasiswa pasca sarnaja MIT yang terlibat penelitian ini
menduga bahwa KOI 1843.03 merupakan sebuah planet. Namun demikian,
kebenarannya masih perlu dikonfirmasi. Yang jelas, benda langit tersebut
nyata.
Mengorbit bintang sangat cepat, KOI 1843.03 pasti
memiliki jarak yang sangat dekat. Dengan jarak tersebut, Sanchis-ojeda
mengungkapkan bahwa massa jenis benda langit itu pasti sangat tinggi,
lebih atau sama dengan 7 g/cm3.
"Ketika Anda berada sangat dekat
dengan bintang, interaksi pasang menjadi sangat kuat hingga bisa
mengoyak permukaan dan menghancurkannya. Cara sebuah planet bisa
bertahan adalah dengan memiliki massa jenis tinggi," kata Sanchis-Ojeda
seperti dikutip New Scientist, Rabu (21/8/2013).
Menurut
astronom, 70 persen massa KOI 1843.03 diduga terdiri atas besi,
sementara 30 persen lainnya adalah silikat. Bahkan, tak menutup
kemungkinan bahwa seluruh KOI 1843.03 adalah besi, membuatnya menjadi
bola besi terbesar yang "mengapung" di jagat raya.
Sanchis-Ojeda
mengatakan, selain jarak dekat, faktor yang membuat benda langit ini
berevolusi sangat cepat adalah kecepatan rotasinya. Bila Bumi
mengelilingi Matahari dengan kecepatan 30 kilometer per detik, benda
langit ini mengelilingi bintangnya dengan kecepatan 250 km/detik.
Sanchis-Ojeda
mengungkapkan, benda langit yang berevolusi sangat cepat seperti KOI
1843.03 mungkin banyak. Ia menemukan setidaknya 20 kandidat planet yang
mengorbit bintangnya dalam waktu kurang dari sehari semalam di Bumi.
Astronom
belum mengetahui bagaimana sebuah planet bisa berada sangat dekat
dengan bintangnya. Diduga, benda seperti KOI 1843.03 sebelumnya
terbentuk di wilayah jauh dari bintangnya namun bermigrasi ke dalam. Ada
kemungkinan pula, benda langit ini adalah inti planet besar yang
bermigrasi.
Dimitar Sasselov, astronom dari Harvard University
yang tak terlibat studi, mengatakan, KOI 1843.03 mungkin juga bukan
hanya berada di dekat bintangnya, tetapi di dalam atmosfer atas bintang
induknya atau koronanya.
Jika benar bahwa planet berada di dalam
korona, maka planet ini bisa dikatakan takkan pernah bebas dari radiasi
bintangnya. Bagi manusia, benda langit ini sangat mematikan, panasnya
melelehkan sementara radiasinya merusak.
Editor : Yunanto Wiji Utomo